Digitalisasi, Kepekaan Sosial dan Dampaknya terhadap Pembangunan Kota

Kata ‘apatis’ adalah cap yang seringkali diberikan pada orang-orang yang enggan perduli pada sekitarnya, bukan sekadar tidak perduli, orang yang apatis ini seringkali tidak mau tau dengan kondisi sekitar, jika berhadapan dengan persoalan yang tidak menyenangkan mereka hanya akan berdiam diri sembari sibuk protes dengan sejuta keluhan tentang betapa buruknya situasi atau betapa tidak terlihatnya kinerja pemerintah. Keluhan-keluhan ini sayangnya tidak disampaikan kepada orang yang tepat, lebih sering disimpan untuk diri sendiri, ngedumel istilahnya.

Padahal kecerdasan sosial yang dimiliki oleh masyarakat adalah modal yang berharga untuk sebuah kota. Masyarakat yang sensitif dan memiliki semangat membangun lingkungan sekitarnya akan senantiasa aktif menyuarakan apa kekurangan di sekitarnya, tujuannya tentu saja untuk adanya perbaikan atas kekurangan yang ada.

Masyarakat yang memiliki tingkat kepekaan sosial yang tinggi ini umumnya memanfaatkan sosial media maupun portal online lainnya untuk bersuara, tak jarang mereka menandai langsung akun pejabat-pejabat terkait yang memiliki wewenang terkait laporan yang dilayangkan. Di tangan mereka ketidaksesuaian yang ada disalurkan dengan tepat, tak jarang permasalahan-permasalahan sosial melahirkan tagar-tagar yang memicu sebuah gerakan sosial agar permasalahan yang ada segera direspon oleh pemerintah.

Seperti kasus terlalu banyaknya sampah sedotan yang mencemari ekosistem laut, beberapa orang dengan kecerdasan sosial yang tinggi justru memanfaatkan momen ini untuk mengagas perubahan, beramai-ramai mereka memposting soal bahayanya sampah plastik yang bisa membunuh hewan laut dan menyarankan untuk penggunaan sedotan berbahan stainless steel ataupun bambu yang bisa mendukung asas keberlanjutan.

Beberapa pihak bahkan memanfaatkan kepekaan terhadap teknologi untuk dijadikan solusi bagi permasalahan sosial, terbukti dari maraknya kemunculan aplikasi-aplikasi sesuler yang memiliki fungsi untuk membawa perubahan di masyarakat. Aplikasi seperti SOROT yang di-develop oleh salah satu start up asal Bandung misalnya, aplikasi ini menawarkan fitur untuk menampung laporan-laporan dan keluhan masyarakat untuk kemudian diteruskan kepada pejabat terkait agar segera ditangani dan menemukan solusi.

Melihat hal tersebut digitalisasi dan internet yang berpadu dengan kepekaan sosial ternyata mampu membawa udara perubahan. Teknologi tak hanya hadir membawa kecanggihan, melainkan bisa menjadi medium dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Dengan ramainya masyarakat yang menggunakan teknologi untuk hal-hal positif yang tentunya akan membawa dampak positif bagi pembangunan sebuah kota.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*